If we were born as a poem. We would lead on the singing souls. Make an alliance with a pen in the fields. Propping up the bodies with soft fingers. —So aesthetically pleasing. But we aren’t a poem. Umpteen times and trips will not die by flirting words. (Fernanda Rochman Ardhana)

Tuesday, April 5, 2016

BOOK REVIEW OF SAKKAREPMU! BY FERNANDA ROCHMAN ARDHANA WAS PUBLISHED ON APRIL 5, 2016 IN INDONESIA NEWSPAPER, KORAN PANTURA


Book Review of Sakkarepmu! by Fernanda Rochman Ardhana was published on Tuesday, April 5, 2016 in Indonesia newspaper, Koran Pantura.

 * Koran Pantura is an Indonesia daily newspaper published in Probolinggo, East Java.


Estetika Sebagai Tanggapan Moral Atas Fenomena Sakkarepmu


Judul                        : Sakkarepmu! (Kumpulan Puisi)
Penulis                     : Penyair Mbeling Indonesia
Penerbit                   : Sibuku Media, Yogyakarta
Cetakan                   : Pertama, Januari 2016
Tebal                        : xxii + 86 halaman
ISBN                       : 978-602-6814-52-4


BANYAK sikap dan perilaku tercermin dalam kehidupan masyarakat indonesia yang madani, dalam memainkan peranannya baik sebagai pemimpin maupun warga sebuah negara independen yang berasas pancasila, berbudaya ketimuran serta berketuhanan yang Maha Esa. Meski dalam beberapa ruang masih terdapat pembatasan oleh norma-norma yang ada dan bersifat mengikat, namun kebebasan yang muncul, buah dari terjunjung tingginya demokrasi di negara ini, seolah memberi celah bagi masyarakat untuk mempergunakan haknya sebagai insan yang dapat bertindak semaunya berdasarkan naluri dan hasrat –yang terkadang tanpa memanfaatkan akal dan pikiran dalam mempertimbangkan konsekuensi.
Fenomena inilah yang coba dikritisi oleh lima puluh enam Penyair Mbeling Indonesia melalui himpunan karya puisi yang kebanyakan bernada satire dengan gaya bahasa bebas, sedikit humoris dan nakal, khas puisi mbeling, dalam buku berjudul ‘Sakkarepmu!’ yang kelahirannya diprakarsai oleh penyair Agus Warsono dan dipengantari oleh budayawan Sosiawan Leak.
Secara harfiah dalam bahasa Jawa, kata sakkarepmu memiliki makna semaumu. Judul buku ini selaras dengan struktur puisi-puisi yang termuat di dalamnya, yang dapat dianalogikan sebagai citra olah daya pikir dari titik kontemplasi, perpaduan kreasi berunsur subjektivitas penyair dengan visualisasi secara objektif terhadap situasi dalam kehidupan masyarakat Indonesia, dewasa ini. Dalam pengertian sederhana, lahirnya buku ini merupakan bentuk tanggapan akan perilaku sakkarepmu di negara ini, dari para penyair mbeling yang berbuat sakkarepnya dalam memotret perkembangan Indonesia hingga saat ini.
Anomali dalam kehidupan bermasyarakat dicoba untuk dimunculkan sebagai persoalan yang nyata dan kronis oleh penyair Ary Sastra yang menuangkan sindiran secara eksplisit pada bait-bait puisi “Negeri Patpatgulipat” (hlm.11). Sedikitnya teramati dalam penggalan bait berikut: inilah negeri patpatgulipat/ tempat orang bermain petak umpat/ saling sikut dan sikat/ paling jago lipat melipat.
Sajak Penutup (hlm.19) menyoroti kejanggalan dalam berbusana yang acapkali digandrungi oleh remaja perempuan masa kini, yang mana justru menimbulkan polemik karena dapat mengundang polah negatif dari lawan jenis. Hal itu terungkap dalam penggalan bait berikut: yang mana hendak kau tutupi, Nona?/ gerai rambutmu digumuli tudung/ sementara kemolekan masih liar berkaca,/ pada tatap-tatap kami yang sudi menelan ludah.
Kancah perpolitikan tetap mempunyai daya tarik tersendiri untuk dikupas secara mendalam dari berbagai sudut pandang. Korupsi, kolusi dan nepotisme yang kian merajalela di bidang tersebut, menggugah penyair Navys Ahmad untuk turut menyuarakan sentilan melalui puisi “Negeri Parahdoks” (hlm.39) dengan penggalan bait sebagai berikut: di negeri ini/ hutan-hutan kita paru-paru dunia/ paru-parunya terbakar marahlah dunia/ emas numpuk setinggi gunung/ gunung dikeruk rakyatnya bingung.  
Dari konteks penyimpangan dalam kehidupan bermasyarakat, berpolitik hingga merambah ranah sastra, kesemuanya tersaji secara puitis dalam buku ini. Seperti halnya yang disampaikan oleh penyair Nanang Suryadi dalam puisinya “Dongeng, Penyair Kok Mendongeng?” (hlm.37). Nanang seolah membuka tabir realita yang seringkali dialami oleh para penyair itu sendiri, terjebak dalam hegemoni daya imajinasi yang mana bercampur dengan kehidupan faktual. Tercermin dalam penggalan bait berikut: ia menepi. memilih kedai paling sunyi. melihat lalu lalang orang bergegas, ia tertawa sendiri. seperti dirinya sendiri./ “kasihan kau penyair, sibuk dengan imajimu sendiri.” katanya kepada cermin, selesai mandi.
Secara keseluruhan, estetika yang lahir sebagai tanggapan moral atas fenomena sakkarepmu ini menyisipkan amanat yang positif. Pendeskripsian secara metaforis dengan mengedepankan tutur bahasa alegoris yang meski tidak terlalu kentara dikarenakan kekhasan dari puisi mbeling itu sendiri, dapat menarik minat pembaca untuk menggali dan menghayati makna untaian diksi yang dikemas apik dan retoris tersebut. []


*) Fernanda Rochman Ardhana, Alumnus Universitas Jenderal Achmad Yani (UNJANI). Penulis dan penikmat sastra. Bergiat di beberapa komunitas sastra. 

Please put your comment in here with a lovely words

PROMO "Simfoni Jiwa"

PROMO "Simfoni Jiwa"

PROMO "Aksara Napasku"

PROMO "Aksara Napasku"