If we were born as a poem. We would lead on the singing souls. Make an alliance with a pen in the fields. Propping up the bodies with soft fingers. —So aesthetically pleasing. But we aren’t a poem. Umpteen times and trips will not die by flirting words. (Fernanda Rochman Ardhana)

Sunday, January 31, 2016

Book review of Simfoni Jiwa by Fernanda Rochman Ardhana was published on January 31, 2016 in Indonesia newspaper, Radar Sampit



Book Review of Simfoni Jiwa by Fernanda Rochman Ardhana was published on Sunday, January 31, 2016 in Indonesia newspaper, Radar sampit.

 * Radar Sampit is an Indonesia daily newspaper published in Sampit, Central Kalimantan.


Estetika Pemikiran Musikal dalam Simfoni Jiwa


Peresensi                 : Fernanda Rochman Ardhana
Judul                        : Simfoni Jiwa (Kumpulan Puisi)
Penulis                     : Sulistyono, Nacita Salsabila
Penerbit                   : Pustaka Kata
Cetakan                   : Pertama, Januari 2016
Jumlah Halaman     : xix + 125 halaman
ISBN                       : 978-602-6769-66-4


BILA mendengar kata simfoni, maka yang terpikirkan adalah hal-hal yang berkaitan dengan musik. Bila merujuk pada pengertian simfoni secara sempit dan terkait dengan bidangnya yaitu musik, akan ditemukan definisi dari kata simfoni yaitu komposisi musik yang lengkap dalam sebuah orkes, namun bila dimaknai secara luas dan tidak terikat dengan bidang aslinya maka akan ditemukan definisi yang lebih luas dari kata simfoni yaitu sesuatu hal yang terwujud indah yang merupakan gabungan secara kompak dari rangkaian beberapa hal yang berbeda.

Thomas Carlyle, seorang penulis ternama dari Skotlandia mengatakan bahwa puisi merupakan pemikiran bersifat musikal sehingga penyair yang menciptakan puisi seakan memikirkan kata-kata yang disusun sedemikian rupa hingga termuat rangkaian bunyi yang merdu di dalam puisinya, seperti halnya dalam musik yang mempergunakan orkestra bunyi. Berdasarkan pandangan tersebut maka tidaklah salah bila puisi dapat dikatakan sebagai alunan nada yang tertuang dalam antologi dan terbacakan saat deklamasi. Oleh sebab itu, gabungan dari beberapa puisi yang berbeda —seperti halnya gabungan komposisi musik dalam sebuah orkes— dicoba oleh dua penyair, Sulistyono dan Nacita Salsabila untuk dikolaborasikan membentuk suatu perwujudan estetik yang mewakili keseluruhan makna dari puisi-puisi tersebut yaitu “Simfoni Jiwa”.

Ada sedikit kesan nyentrik yang tertangkap ketika membaca beberapa puisi Sulistyono dalam buku ini yang seolah ingin mengeksploitir kegandrungannya terhadap minuman beraroma nikmat tapi terkecap pahit dan kental di lidah, bernama kopi. Kepahitan yang tersajikan dalam sebuah cita rasa kopi akan susut dengan sendirinya bila mampu mengolahnya dengan larutan pemanis, dan Sulistyono mampu mengaitkannya dengan sisi humanitas, seperti halnya dalam penggalan puisi “Secangkir Kopi”: Hitam tak bergula/ bukan manis ataupun tawar/ perjalanan anak manusia/ lika-liku lekuk tak lentur. Sebuah analogi yang menarik serta hikmah tersembunyi dari sebuah inspirasi sederhana, yaitu secangkir kopi.

Kesan yang kurang lebih serupa terurai dalam bait puisi “Kedai Apresiasi Secangkir Kopi”: O, bangau senja, datanglah!/ Jemput aku di antara hujan dan malam/ kita bercanda di pucuk fajar meranum/ bersama bermandi puisi/ hingga matapun terpejam di sini/ Lalu, apa yang terjadi?/ Aku tetaplah secangkir kopi/ di tubuhmu/ kedai apresiasi secangkir kopi. Majas personifikasi begitu matang tergores dalam bait-bait yang menonjolkan suasana romantis ini.

Dalam buku ini, Sulistyono cukup lihai mengeksplorasi inspirasi-inspirasi dari hal-hal kecil yang terangkum di sekelilingnya –misalnya: cangkir dan kopi— memadukannya dengan alegori yang begitu kuat, lalu menuangkannya secara cermat hingga dapat menumbuhkan rona estetik yang mampu memikat hati pembaca.

Menyisir bait-bait puitis Nacita Salsabila, tampak alegori yang tersusun ritmis dan liris namun meluapkan geliat emosi yang tertahan. Pembaca akan menemukan ambivalensi di antara rasa bimbang dan getir yang terbentuk dari perpaduan romansa dan elegi yang seakan melekat dalam jiwa penyair itu sendiri. Salah satunya terlihat dalam bait puisi “Gambaran Cinta”: Aku punya banyak cinta/ yang tersemai di lorong-lorong jiwa/ beragam warna kaburkan mata/ merah, hijau, ungu, abu-abu dan biru/ semua memvonisku.

Nuansa beraroma elegi, sedikitnya akan teramati dalam pengakuan sang penyair dalam penggalan puisi “Untukmu Pipit”: Aku terkesima/ bukan karena takjub/ tapi mataku berdarah lagi/ seperti kucuran air dari celah bebatuan bukit/ menghempaskanku pada hampa yang begitu sakit. Betapa menariknya sang penyair mengungkapkan suatu metafora untuk sebuah ekspresi kekecewaan.

Hegemoni kemuraman begitu kental terasa pada puisi-puisi karya Nacita dalam buku ini. Seakan menyiratkan bahwa elegi begitu mudah terhampar dalam imaji seorang penyair perempuan, saat ini. Bisa jadi ini merupakan ciri khas seorang Nacita dalam melakukan upaya persuasif terhadap pembaca untuk turut merasakan sebuah kontur dilematis yang hinggap dalam relung hatinya secara kompleks, meski mungkin hanya terbatas pada guratan pena, tidak sungguh benar-benar terjadi dalam situasi faktual yang dialaminya.

Keberhasilan kedua penyair “Simfoni Jiwa” dalam menyajikan puisi-puisi yang dikemas apik dan estetik dengan menyertakan personifikasi, metafora, atau majas lainnya secara proporsional, dapat dengan mudah menumbuhkan ikatan antara penyair dengan pembaca. (*)

*) Fernanda Rochman Ardhana. Penulis dan penikmat sastra.

Notes: Bila Anda tertarik untuk membacanya. Harga: 40.000,- + Ongkir. Anda dapat memesannya dengan cara ketik: Aksara Napasku + Nama Pemesan + Alamat Lengkap + No.Hp + Jumlah Buku, kirim ke 085648629927 atau inbox akun Facebook: Anggi Putri W / Nasta'in Achmad / Pustaka Kata.
 

Please put your comment in here with a lovely words

PROMO "Simfoni Jiwa"

PROMO "Simfoni Jiwa"

PROMO "Aksara Napasku"

PROMO "Aksara Napasku"