If we were born as a poem. We would lead on the singing souls. Make an alliance with a pen in the fields. Propping up the bodies with soft fingers. —So aesthetically pleasing. But we aren’t a poem. Umpteen times and trips will not die by flirting words. (Fernanda Rochman Ardhana)

Sunday, January 24, 2016

BOOK REVIEW OF AKSARA NAPASKU BY FERNANDA ROCHMAN ARDHANA WAS PUBLISHED ON JANUARY 24, 2016 IN INDONESIA NEWSPAPER, TRIBUN JATENG


Book Review of Aksara Napasku by Fernanda Rochman Ardhana was published on Sunday, January 24, 2016 in Indonesia newspaper, Tribun Jateng.

* Tribun Jateng is an Indonesia daily newspaper published in Central Java.


Daya Evokatif dari Karya bagi Pembaca


Peresensi                 : Fernanda Rochman Ardhana
Judul                        : Aksara Napasku (Kumpulan Puisi)
Penulis                     : Aidah Lembayung Senja, Andre Sayap Patah, Kataji Kusilanglang
Penerbit                   : Pustaka Kata
Cetakan                   : Pertama, Januari 2016
Jumlah Halaman     : xx + 130 halaman
ISBN                       : 978-602-6769-59-6

KETIKA memasuki dunia maya, kita akan menemukan realita konkret bahwa di era globalisasi seperti saat ini, ternyata masih terdapat kepedulian anak negeri terhadap karya sastra, baik fiksi berupa puisi dan prosa. Kita dapat memandangnya sebagai fenomena ekses, yang harus ditanggapi positif, agar sastra tak statis pada komunitas atau golongan cendekiawan tertentu.
Lahirnya buku yang memuat sembilan puluh puisi karya tiga penyair yang aktif menulis puisi di media sosial Facebook ini, secara tidak langsung membuktikan hal tersebut.
Menyusuri sekumpulan diksi yang disajikan Aidah Lembayung Senja (Nama pena Siti Ngaidah Sumarto) dalam buku ini, kita akan mendapatkan tema religi sebagai pondasi. Ada hasil dari kontemplasi dalam diri Aidah, ihwal ritual yang memang wajib dilaksanakan sebagai konsekuensi dari hakiyakin yang terjalin antara dirinya dengan Sang Pencipta. Seperti halnya dalam puisi “Lebur dalam Ketenangan” (hlm.12):  kekhusyukan hati kian tinggi/ menyulam indah syair religi/ melangit doa pada diri/ melayangkan mimpi yang pasti/ membentuk jiwa tak berbayang/ bersimpul indah kasih sayang/ peranan laku dalam sembahyang/ sematkan ia jangan dibuang. Penyair seolah memberi ruang kepada pembaca untuk turut melakukan ekskavasi dalam diri.
Menafsir diksi-diksi sederhana namun bermajas, kental dalam karya-karya puisi Andre Sayap Patah (Nama pena Kasman Gani). Hal ini dapat menjadi gambaran bahwa keberagaman dalam rutinitas serta pergumulan dengan kehidupan terkadang membuat seseorang mencapai titik renungan. Sehingga, dari apa yang ditulisnya, kita dapat turut merasakan kesan dan perasaan yang bersemayam. Hal ini terhadirkan dalam puisi “Kerasnya Kejujuran” (hlm.77): menara lampu suar berkedip mengarah laut/ aku dilema berlabuh/ dermagaku seperti kain sarung robek/ beton penyanggah lapuk dimakan koruptor/ besi dan semen masuk sakunya/ hingga perut mereka buncit/ menekan tombol dalam rapat anggaran.
Akan ada kesan tersendiri ketika menelisik goresan-goresan pendek dari Kataji Kusilanglang (Nama pena Mamal Jamaludin) yang rata-rata memuat tiga bait. Kecenderungan mengusung sebuah tema yang identik dengan persoalan keseharian sepertinya pilihan tepat dan menarik bagi penyair. Dalam beberapa puisinya, Kataji meminta pembaca turut memikirkan persoalan tersebut secara simbolis. Satu diantaranya dalam penggalan bait puisi “Payung Tengah Rumah” (hlm.120):  apa artinya atap/ menadah sebaris kuyup/ saat rintik menyusup/ sayup/ tetesan ranum hujan/ kembang payung setangkaian/ disangka pilar keteduhan/ rawan. Puisi yang menarik bila dianalogikan dengan kehidupan.
Kontinuitas dan stabilitas dalam berbahasa estetik yang diproyeksikan melalui karya puisi, sangat diperlukan untuk memberikan daya evokatif dari karya tersebut bagi pembaca. Impresionisme diri ketiganya yang dominan membuat puisi ketiganya memiliki ruh yang mampu memikat hati pembaca. (*)

*) Alumnus Universitas Jenderal Achmad Yani (UNJANI). Penulis dan pegiat sastra. Berdomisili di Cileunyi, Jawa Barat.


Notes: Bila Anda tertarik untuk membacanya. Harga: 40.000,- + Ongkir. Anda dapat memesannya dengan cara ketik: Aksara Napasku + Nama Pemesan + Alamat Lengkap + No.Hp + Jumlah Buku, kirim ke 085648629927 atau inbox akun Facebook: Anggi Putri W / Nasta'in Achmad / Pustaka Kata.
 

Please put your comment in here with a lovely words

PROMO "Simfoni Jiwa"

PROMO "Simfoni Jiwa"

PROMO "Aksara Napasku"

PROMO "Aksara Napasku"